|
|
|
Keranjang belanja kosong.
|
|
| :: Info dan Iklan |
Pasang Iklan?
|
|
|
Menyingkap Syubhat & Fitnah Ihya At-Turots
|
|
|
Penulis : Al Ustadz Abu Karimah Askari |
|
Sumber : www.darussalaf.or.id |
|
Layout : Tim Maktabah Al-Ilmu |
|
Tanggal : 2007-03-31 |
|
Halaman : 90 halaman |
|
Ukuran : 764 KB |
|
Bentuk file : PDF |
|
Hits : 14149 |
|
|
|
|
FATWA PARA ULAMA TENTANG IHYA AT-TUROTS (Ihya At-Turots Bag. 1)
“Buku emas”, itulah pujian dari para pendukung Ihya’ At Turats terhadap tulisan Al-Akh Abu Abdil Muhsin Firanda Ibnu Abidin –semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan kepada kita semua-. Di dalam buku ini Al-Akh Firanda menerapkan beberapa kaidah tentang masalah khilaf, hajr dan yang lainnya yang tidak didudukkan pada tempatnya.
Dengan berbagai dalih –bukan dalil- Ia mengemukakan beberapa alasannya tentang pembelaannya terhadap “Jum’iyyah Hizbiyyah” ini. Bahkan sampai kepada tingkat - bukan saja membolehkan untuk mengambil dana darinya - bahkan menganjurkan untuk berta’awun bersamanya dan meminta dana darinya.
Jum’iyyah Ihya At-Turots, masalah ijtihadiyyah? (Ihya At-Turots Bag. 2)
Pada edisi yang lalu, telah kita nukilkan sebagian fatwa para ulama yang menyatakan bahwa Ihya At-Turots adalah organisasi yang dibangun diatas manhaj Ikhwani,yang didalamnya diterapkan cara-cara hizbiyyah. Diantaranya Ihya At Turats mengikat anggotanya dengan cara bai’at, ikut serta dalam politik praktis,berparlemen, menyebarkan pemikiran Quthbiyyah dan takfir. Sehingga menyebabkan terjadinya perpecahan di berbagai negeri disebabkan campur tangannya organisasi ini, yang mengatasnamakan dakwahnya dengan nama dakwah Salafiyyah. Termasuk adanya perpecahan yang telah terjadi di Indonesia.
Kesalahan Mujtahid vs Pengekor Hawa Nafsu - Ifrath Haddadiyyah vs Tafrith Sururiyyah (Ihya At-Turots bag. ke 3)
Ada sebagian kaum muslimin yang tidak mengerti tentang hakikat dakwah Ahlus Sunnah, lalu melontarkan berbagai tuduhan kepada Ahlus Sunnah dengan gelar “Dakwah Haddadiyyah”, lalu mentahdzir kaum muslimin darinya. Namun sebaliknya mereka memberikan pujian kepada para pembela Ihya At-Turots, mentazkiyahnya, bahkan menggelarinya dengan gelar “Buku Emas”. Hal ini disebabkan karena orang yang menuduh tersebut tidak mengerti tentang prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal-jama’ah itu sendiri. Semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya.
Ulama, Antara Senior Dan Paling Senior ? (Ihya At-Turots Bag. Ke 4)
Maka siapa saja dari kalangan para ulama yang membawakan dalil yang shahih,dan mengikuti metode salaf dalam beristidlal dan memahami dalil, maka harus diterima, tanpa melihat apakah dia seorang alim yang dianggap ‘senior’ –jika ungkapan ini benar- ataukah kurang ‘senior’. Maka membeda-bedakan para ulama dalam menerima pendapat mereka - antara senior dengan yang paling senior –secara mutlak adalah menyelisihi manhaj salaf yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam sikap fanatik terhadap satu pendapat tanpa memperhatikan hujjah-hujjah mereka.
Perhatikanlah jawaban dari Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah, dimana beliau menganjurkan kaum muslimin yang ingin mengetahui penyimpangan Sayyid Quthb agar merujuk pada kitab Syaikh Rabi’ hafidzahullah. Dan ini tidaklah menunjukkan bahwa Syaikh Ibnu Utsaimin tidak mengerti “fiqhul waqi’” hanya karena tidak mengetahui keadaan Sayyid Quthb- yang sangat terkenal dan kiprahnya dikenal banyak orang -seperti yang diklaim oleh al akh Firanda, si pencetus bid’ah “senior dan paling senior” ini.
IHYA ATTUROTS, BONEKA ABDURRAHMAN ABDUL KHALIQ (Ihya At-Turots Bag.5)
Pada akhir pembahasan lalu, kami telah menjelaskan tentang ketidakpahaman serta kecerobohan Al-Akh Firanda dan yang bersamanya - waffaqonallahu wa iyyahum lima yuhibbu wa yardha – walaupun ia berusaha mentarjih permasalahan ini. Sayangnya ia seorang pentarjih yang kosong dari dalil, misalnya menganggap sebagian yang mentahdzir tidak termasuk jajaran ulama paling senior atau berdalil dengan naluri yang biasanya dilakukan oleh kaum shufiyyah dan yang lainnya. Juga kami membawakan tentang istilah fiqhul waqi' yang dimaksudkan oleh para hizbiyyin semisal Abdurrahman Abdul Khaliq, mufti organisasi Ihya At Turats.
CERCAAN TERHADAP IHYA' AT-TURATS ADALAH JARH MUFASSAR (Ihya At-Turots Bag. ke 6)
Untuk lebih mengesankan "sikap netral" al akh Firanda dan yang bersamanya, terkadang mereka mengatakan : "Walaupun kami lebih condong kepada pendapat yang mengatakan untuk tidak bermuamalah dengan mereka". Lihatlah suatu sikap yang aneh ! Maka kita katakan : "Lalu untuk apa anda menulis pembahasan khusus untuk membela mereka dan yang bermuamalah dengan mereka ?!!, lalu yang berseberangan dengan mereka tidak boleh mentahdzirnya dan memperingatkan kaum muslimin dari bahaya hizbiyyah dan penyimpangannya, karena hal ini adalah termasuk masalah ijtihadiyyah ?". Maka terlihat jelas bahwa 'lisan hal' mereka mengatakan : "Diamlah kalian wahai Ahlus Sunnah, jangan mentahdzir organisasi tersebut dan yang bermuamalah dengannya, sebab jika kalian mentahdzir mereka maka kalian termasuk hadadiyyah !
Bagian ke-7 : Ulama Ahlus Sunnah Tidak Merekomendasi Ihya At Turats (1)
Barangsiapa yang memperhatikan secara seksama fatwa-fatwa Syaikh Bin Baaz rahimahullah, khususnya berkenaan tentang masalah politik, masuk parlemen, bai'at dan yang semisalnya, dia akan mengetahui bahwa seandainya beliau – Syaikh Ibn Baz- mengetahui hakekat penyimpangan dari organisasi ini, niscaya beliau tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tentang masalah bai'at. Berikut nash fatwa tersebut:
ULAMA AHLUS SUNNAH TIDAK MEREKOMENDASI IHYA ATTURATS (2) (Ihya At-Turots Bag.8)
Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidzahullah ditanya :
Apa yang anda ketahui tentang Jum'iyyah Ihya'ut Turats yang berada di Kuwait dimana jum'iyyah ini telah membuka cabangnya di irak dan telah memecah belah para pemuda salafy dan membuka pelajaran dan memberikan gaji bagi setiap orang yang menghadiri pelajaran tersebut dan orang-orang yang memberikan pelajaran tersebut bukanlah ahlinya untuk mengajar. Berikanlah kami bimbingan, semoga anda mendapatkan pahala ?
|
|
Maktabah Manhaj yang lain
|
|
|
|
|
|